Minggu, 10 Juni 2012

Berapa persenkah kecintaan kita kepada Rosulullah?

( Euis Ningrum )

Nabi Muhammad SAW, shalawat dan salam atas beliau. Manusia pilihan pembawa ajaran yang menyelamatkan umat manusia dari masa-masa kebodohan. Figur seorang hamba yang kemuliaan akhlaknya tak setara dengan luas selaksa semesta.


Muhammad Rosullullah, selama 13 tahun berkecimpung dalam dakwah, memperjuangkan syiar agama Allah. Berat nian tantangan berdakwah harus beliau tempuh. Peluh tak lagi dirasa, lelah yang terus mendera tak membuatnya kalah melawan hinaan, fitnah, dan kesewenang-wenangan kaum Yahudi.(ingat kisah Si pengemis Yahudi buta yang selalu menghina Nabi, namun Nabi tetap menyayanginya...) 

Rosul kesayangan Allah... Ketika masa kehidupan beliau yang semakin tua, sakit mulai menhampirinya. Tapi Muhammad SAW tidak ingin bersedih dan merasakan penyakitnya itu. Dengan tubuh yang lemah beliau tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah bersama para sahabat.

Suatu hari ketika Rosulullah shalat berjamaah dalam keadaan masih sakit dan lemah, beliau naik ke mimbar dan berkata, " Sesungguhnya Allah telah memberikan pilihan kepada seorang hamba untuk memilih antara kehidupan dunia dan apa yang ada di sisiNya di kehidupan akhirat. Hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi Allah di kehidupan akhirat." Mendengar ucapan Rosullullah itu, Abu Bakar menangis tersedu-sedu sementara sahabat yang lain hanya mendengarkan. Abu Bakar mengerti bahwa ucapan itu adalah tanda akhir dari perjuangan Rosullullah di dunia dan akan berpulang menemui Sang Khalik.

Pada saat kritisnya Nabi meminta izin kepada istri-istrinya untuk tinggal di rumah Aisyah. Beliau di rawat oleh Aisyah dan Fatimah, putri kesayangannya. 

Ketika Nabi mulai merasakan kedatangan malaikat maut untuk menjemputnya, beliau membisikkan sesuatu kepada Fatimah. Sejenak setelah mendengarkan ucapan Nabi, Fatimah menangis. Ia menangis karena ayahnya mengatakan inilah sakitnya yang terakhir sehingga Fatimah merasa sedih.Kemudian bisikan yang kedua membuat Fatimah tersenyum. Ucapan ayahnya membuat Fatimah bahagia karena ayahnya mengatakan ia adalah orang pertama yang akan menyusulnya.

Pada saat sakaratul maut Nabi berusaha mengusap-usap wajahnya untuk menahan rasa sakit dengan air yang tersedia dalam mangkok. Dengan suara parau Nabi berucap " Ummatii..ummatii.." Betapa besar kecintaan dan perhatian Nabi Muhammad kepada umatnya. Nabi juga memberi wasiat agar umatnya tidak meninggalkan shalat dan selalu berbuat baik pada hamba sahaya. 
Detik-detik akhir hayatnya, di pangkuan Aisyah, Nabi berdoa, "Ya..allah, ampunilah aku, dan rahmatilah aku, serta masukkan aku ke dalam golongan para Nabi." 

SubhanaAllah...Nabi Muhammad yang bergelar Al-Amin masih meminta ampun kepada Allah dan memohon di tempatkan bersama dengan para Nabi.

Ajalpun menjemput. Paras Nabi yang selalu cerah kini pucat pasi, tak ada lagi suara yang menggetarkan hati setiap umat yang mendengarkan dakwahnya. Semua larut dalam kesedihan...Fatimah berkata, " Wahai ayah, Engkau telah penuhi panggilan Rabb. Wahai ayah..surga firdaus tempat tinggalmu. Wahai ayah...kepada Jibril kami melepas kepergianmu..."

Allahumma shalli wa salim 'ala sayyidina Muhammad...

Tangisan pilu istri, anak, dan para sahabatmu menjadi derai air mata juga bagi kami para pengikutmu, Ya..
Rosulullah...



Song : RINDU RASUL (BIMBO)


Rindu kami padamu ya rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu ya rasul
Serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya suarga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja

Rindu kami padamu ya rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu ya rasul
Serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya suarga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja

Rindu kami padamu ya rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu ya rasul
Serasa dikau di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar